Amanah Dan Kisah Hikmahnya.

AMANAH

Maramuda Siregar

Institut Agama Islam Tafaqquh Fiddin Dumai

maramudasrg1@gmail.com




Amanah secara etimologis berasal dari bahasa Arab amina – ya`manu – amanatan yang berarti jujur atau dapat dipercaya. Ada tiga kata serupa yang semuanya dibentuk dari huruf alif, mim dan nun yaitu aman, amanah dan iman. Ketiganya memiliki hubungan yang erat, yaitu menunjukkan kepada ketenangan atau tuma’ninah. Amanah menunjukkan pada kepercayaan, dan kepercayaan adalah ketenangan, sedang aman adalah hilangnya rasa takut. Ini juga berarti ketenangan. Kemudian iman bermakna pembenaran dan ketetapan (iqrar) serta amal perbuatan, yang di dalamnya terdapat pula ketenangan.

Secara terminologis, menurut Ahmad Musthafa Al-Maraghi, amanah adalah sesuatu yang harus dipelihara dan dijaga agar sampai kepada yang berhak memilikinya. Sedangkan menurut Ibn Al-Araby, amanah adalah segala sesuatu yang diambil dengan izin pemiliknya atau sesuatu yang diambil dengan izin pemiliknya untuk diambil manfaatnya.

Yunahar Ilyas mengkategorikan pengertian amanah menjadi dua. Pertama, amanah dalam pengertian sempit; yaitu memelihara titipan dan mengembalikannya kepada pemiliknya dalam bentuk semula. Kedua, amanah dalam pengertian luas yang mencakup banyak hal, antara lain: menyimpan rahasia orang, menjaga kehormatan orang lain, menjaga diri sendiri, menunaikan tugas-tugas yang diberikan dan sebagainya. Tugas-tugas yang dibebankan Allah kepada manusia disebut sebagai amanah taklif.

Amanah taklif adalah amanah terbesar yang harus dipikul manusia, sementara makhluk lain menolaknya. Hal ini digambarkan dalam firman Allah pada surat al-Ahzab ayat 72:


إِنَّا عَرَضۡنَا ٱلۡأَمَانَةَ عَلَى ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱلۡجِبَالِ فَأَبَيۡنَ أَن يَحۡمِلۡنَہَا وَأَشۡفَقۡنَ مِنۡہَا وَحَمَلَهَا ٱلۡإِنسَـٰنُۖ إِنَّهُ ۥ كَانَ ظَلُومً۬ا جَهُولاً۬ (٧٢(


Artinya : Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung. Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh (Qs. al-Ahzab/33: 72)


Dalam suatu dialog dengan murid-muridnya, Imam al-Ghazali menyampaikan bahwa yang terdekat dengan diri kita adalah kematian, yang terjauh adalah masa lalu, yang terbesar adalah hawa nafsu, sedangkan yang terberat dalam hidup adalah memikul amanah. Betapapun beratnya, amanat akan dilaksanakan sebaik-baiknya oleh orang yang beriman dengan iman yang benar. Antara iman dengan amanah memang terdapat hubungan yang erat. Bisa dikatakan bahwa amanah merupakan konsekuensi logis dari iman. Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda:


إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ وَلَا دِينَ لِمَنْ لَا عَهْدَ لَهُ

Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Tidak (sempurna) iman seseorang yang tidak amanah, dan tidak (sempurna) agama seseorang yang tidak menunaikan janji (HR Imam Ahmad bin Hambal

Mengutip jurnal Konsep Amanah dalam Perspektif Pendidikan Islam oleh Iwan Hermawan (2020), amanah merupakan bentuk mashdar. Ini berasal dari kata kerja amina-ya’manu-amnan-wa amanatan dengan akar kata yang terdiri dari huruf hamzah, mim, dan nun, yang artinya aman, tentram, tenang, dan hilangnya rasa takut.


Amanah adalah sesuatu yang dapat dipercaya. Dengan begitu, amanah bisa dikaitkan dengan sifat seseorang yang dapat dipercaya atau sesuatu yang dipercayakan.

Amanah sendiri menjadi salah satu indikator keimanan seorang manusia. Orang yang beriman akan selalu berupaya menjaga amanah dengan sebaik-baiknya. Dalam sabda Rasulullah juga dijelaskan:


لاَ إِيمَانَ لِمَنْ لاَ أَمَانَةَ لَهُ وَلاَ دِينَ لِمَنْ لاَ عَهْدَ لَهُ


Artinya: “Tidak sempurna iman seseorang yang tidak amanah, dan tidak sempurna agama orang yang tidak menunaikan janji.”(HR. Ahmad).


Amanah merupakan perilaku yang harus diterapkan sehari-hari dalam hidup bermasyarakat. Berikut contoh perilaku amanah yang bisa Anda simak  .   Amanah terhadap Allah SWT dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, seperti melaksanakan shalat 5 waktu, menjalankan puasa Ramadhan, dan berzakat.

Menjaga barang yang dipinjamkan dan mengembalikannya seperti keadaan semula.

Menjaga rahasia.

Tidak menyalahgunakan jabatan.

Ketika dititipi pesan, sampaikan pesan itu kepada yang berhak.

Mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru.

Menjalankan perintah orang tua.

Memelihara semua nikmat yang telah diberikan Allah SWT berupa umur, kesehatan, harta benda, ilmu, dan sebagainya.Berkata apa adanya, tanpa ada yang dilebihkan atau dikurangi.



Secara umum, amanah dibagi menjadi tiga macam, yakni amanah terhadap Allah SWT, sesama manusia, dan diri sendiri. Dirangkum dari buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti SMP/MTs Kelas VII susunan Aris Abi (2021), berikut penjelasannya.



1. Amanah terhadap ALLAH SWT

Seorang Muslim hendaknya memiliki ketaatan akan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Dalam Surat Al-Anfal ayat 27, Allah SWT berfirman:


“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.”


2. Amanah terhadap sesama manusia

Setiap Muslim perlu memenuhi dan menghargai hak-hak antar manusia. Misalnya ketika diamanahkan barang atau pesan, maka ia harus menyampaikan kepada orang yang berhak menerimanya. Allah SWT berfirman:


“Sesungguhnya Allah Swt menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya...” (QS. An-Nisa: 58)


3. Amanah terhadap diri sendiri

Amanah ini dijalani dengan cara memelihara dan menggunakan segenap kemampuannya demi menjaga kelangsungan hidup, kesejahteraan, serta kebahagiaan diri sendiri. Allah SWT berfirman:


“Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.” (QS. Al-Mu’minun: 8)


Ada sebuah kisah hikmah dari seseorang yang punya sifat amanah . Seorang lelaki amanah melahirkan seorang anak yang menjadi ulama besar nama pemuda itu adalah MUBAROK Mubarak awalnya berstatus sebagai seorang budak. Ia ditugasi oleh tuannya untuk menjaga kebun delima milik seorang pedagang Hamadzan dari kabilah Bani Hanzhalah. Bertahun-tahun Mubarak menjadi penjaga kebun. Sampai suatu hari, majikannya datang ke kebun tempat ia bekerja dan minta diambilkan delima yang manis. Mubarak segera bergerak mengambilkan salah satu buah delima, tetapi majikannya tidak berkenan saat mencicipinya.

"Ini masam, Mubarak," katanya dengan nada kecewa. "Carikanlah yang manis."

Mubarak pun mengambilkan buah kedua. "Ini juga masam, carikan yang manis!" Kata-kata itu kembali meluncur dari sang majikan setelah ia mencicipinya.

Mubarak mengambilkan buah delima ketiga. Lagi-lagi, wajah majikan menandakan raut muka kecewa setelah memakannya. "Ini masam, Mubarak. Apakah kau tidak bisa membedakan buah delima yang manis dan buah delima yang masam?"

Mubarak pun menjawab: "Saya tidak dapat membedakannya, antara yang manis dan yang masam tuan. Sebab saya tak pernah mencicipinya."

Mendengar jawaban itu, alangkah herannya sang majikan. "Kau tidak pernah mencicipinya? Padahal engkau sudah bertahun-tahun aku tugaskan menjaga kebun ini?"

"Iya tuan. Engkau menugaskan aku untuk menjaganya, bukan untuk mencicipinya," jawab Mubarak.


Sang majikan tidak jadi marah. Persoalan tidak mendapatkan delima yang manis terlupakan begitu saja. Yang ada kini hanya kekaguman. Ia kagum dengan kejujuran budak penjaga kebunnya.

"Wahai Mubarak, aku memiliki putri yang belum menikah," kata sang majikan mengubah topik pembicaraan.

"Menurutmu, siapakah yang pantas menikah dengan putriku ini?"

"Dulu, orang-orang jahiliyah menikahkan putrinya atas dasar keturunan," jawab Mubarak. "Orang-orang Yahudi menikahkan putrinya atas dasar harta dan kekayaan. Orang-orang Nasrani menikahkan putrinya atas dasar ketampanan. Maka sudah selayaknya orang-orang Muslim menikahkan putrinya atas dasar agama."

Jawaban ini semakin membuat sang majikan kagum dengan Mubarak. Dan selang beberapa waktu, Mubarak dipilih olehnya untuk menjadi menantu. Ia dinikahkan dengan putri kesayangannya.

Dari pernikahan mereka inilah lahir Abdullah bin Mubarak, ulama besar kebanggaan umat yang sangat sulit dicari bandingannya.

Demikianlah, kejujuran akan selalu berbuah manis. Apa yang dialami oleh Mubarak, kejujuran membuatnya bebas, yakni dari berstatus budak menjadi orang yang merdeka. Bahkan, kejujuran pula yang mempertemukannya dengan cinta sejatinya hingga dikaruniai keturunan yang mulia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menulis Di Medsos.

Hari Santri